Dubes Umar Hadi Ungkap Fakta Menarik Penyaluran Bantuan Sosial di Korea Selatan

Duta Besar Indonesia (Dubes RI) untuk Korea Selatan (Korsel) ungkapkan fakta menarik dibalik suksesnya penyaluran bantuan sosial di Korsel selama pandemi Covid 19. Dubes Umar Hadi mengatakan ada sekiranya 21 juta rumah tangga yang tercatat di Korsel. Di masa awal pandemi covid 19, semua rumah tangga di Korsel, tanpa terkecuali, mendapat bantuan dana tunai dari pemerintah Korsel.

“Tak pandang bulu.Mau dia rumah tangga Presiden, maupun rumah tangga CEO Samsung dapat dana tunai dari pemerintah. Besarnya tergantung dari jumlah orang di rumah tangga,” kata Dubes RI. “Kalau yang cuma sendiri, atau bujangan dapatnya sekian ratus ribu won. Maksimum 3, anggaplah terdiri dari bapak, ibu, 1 anak,” lanjutnya. Bantuan sosial berupa dana tunai tersebut disalurkan langsung ke rekening bank masing masing orang atau rumah tangga warga Korsel.

Namun uang atau kartu yang berisi bantuan dana yang diberikan pemerintah itu hanya bisa dipakai belanja barang produksi UKM di toko toko tertentu atau koperasi yang ditunjuk pemerintah. Sehingga perputaran uang tepat sasaran, dan ekonomi yang hampir sempat terhenti kembali berputar. Dubes RI menjelaskan ada alasan khusus mengapa bantuan sosial dari pemerintah Korsel tidak hanya ditujukan untuk warga miskin.

Rupanya pemerintah Korsel ingin memberikan efek kejut bagi perekonomian Korsel yang lesu di awal pandemi covid 19 merebak “Kenapa bantuan itu bukan hanya untuk orang miskin, tapi rupanya efek yang diarah. Dengan uang yang masuk ke pasar, orang beli ke toko UKM ada jumps up, ekonominya di kagetin, sehingga perekonomian kembali berputar,” kata Dubes Umar Hadi “Uang beredar yang tepat sasaran,” lanjutnya

Pemilik gedung kecil yang ada di Korsel juga bisa mengklaim diskon pajak, jika pemilik gedung tersebut menurunkan harga sewa atau membebaskan sewa tenantnya di bulan bulan tertentu saat awal pandemi. Ekonomi yang pada awalnya berdampak cukup berat di Korsel hingga hampir berhenti, dengan adanya intervensi kebijakan tersebut, ekonomi Korsel kembali hidup. Diketahui, 70 persen ekonomi Korsel bergantung pada perdagangan internasional.

Korsel sendiri mengalami kontraksi ekonomi hingga minus 3,2 persen di triwulan pertama atau di awal pandemi merebak. “Tahun lalu di bulan Mei – Juni, ekonomi (Korsel) sudah bergairah lagi. Di semester kedua tahun lalu ekonominya praktis juga sudah kembali bergerak,” ujarnya. China merupakan partner perdagangan terbesar Korsel.

Pada semester kedua tahun 2020, dengan dibukanya kembali perdagangan dengan China, kegiatan ekspor impor Korsel dengan China juga kembali berjalan. Sedangkan dengan Indonesia, Korsel membuat travel corridor arrangement (TCA) yang memungkinkan penduduk kedua negara melakukan perjalanan bisnis dengan protokol yang ketat.

Next Article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *