Program Besar, Ini Keinginan Syekh Ali Jaber soal Aliran Listrik Gratis yang Disampaikan ke Sutiaji

Wali Kota Malang Sutiaji mengaku juga merasakan kehilangan mendalam saat mengetahui . Hal ini tidak lepas dari kedekatan keduanya yang pernah bertemu sebelumnya. Semasa almarhum hidup, ulama kelahiran Madinah, Arab Saudi ini pernah bertamu ke rumah Wali Kota Malang.

Dalam pertemuan tersebut, dikatakan Sutiaji bahwa pernah memberikan pesan kepada anak bungsu Sutiaji. "Almarhum berpesan kepada anak saya bahwa suatu saat nanti bisa menjadi calon pemimpin. Almarhum juga mendoakan keluarga kami agar diberikan kesabaran," ucap Sutiaji, Kamis (14/1/2021). Sutiaji menyampaikan bela sungkawa sedalam dalamnya atas meninggalnya Syekh Ali Jaber yang dia sebut sebagai ulama yang moderat.

Dia merasa kehilangan Syekh Ali Jaber, karena almarhum merupakan ulama yang dicintai oleh semua kalangan. "Saya merasa sangat kehilangan dengan wafatnya beliau. Kita tahu kemarin beliau sempat menghadiri pertemuan dengan Forkopimda dan lainnya," ucapnya. Tak hanya itu, almarhum juga menyebut, bahwa Kota Malang memiliki suasana yang sejuk dan masyarakat yang ramah.

Syekh Ali Jaber juga berkeinginan suatu saat nanti, seluruh wilayah Malang Raya bisa tersuplai aliran listrik yang dikerjakan oleh para santri. "Harapan beliau nanti di indonesia seluruhnya sudah tidak ada yang namanya orang yang tidak punya listrik. Itu program besar beliau dan gratis," tandasnya. Kepergian Syekh Ali Jaber membekas di hati masyarakat Banda Aceh.

Ini tidak pelas dari perjuangan ulama ulama kelahiran Madinah Arab Saudi itu saat ingin menjadikan tunanetra sebagai muazin, qari dan imam salat. Sebelumnya pada Kamis, 26 Februari 2017, Syekh Ali Jaber berkesempatan datang ke Banda Aceh. Saat itu, dirinya memenuhi undangan Wali Kota Banda Aceh saat dijabat Illiza Saaduddin Djamal untuk hadir dalam peringatan maulid Nabi Besar Muhamamd SAW di Balai Kota Banda Aceh.

Acara tersebut juga diisi dengan pembagian Al Quran braille digital untuk para tunanetra di Banda Aceh oleh Illiza bersama Syekh Ali Jaber dan Syekh Adel Al Kalbani. Al Quran braille digital seharga Rp 1.250.000 ini dibagikan secara simbolis kepada 20 penyandang tunanetra. Sedangkan sisanya dibagikan setelah acara peringatan maulid selesai sesuai dengan data penerima yang telah dicatat sebelumnya oleh tim dari Pemerintah Kota Banda Aceh.

Untuk Banda Aceh, Al Quran braile digital ini disediakan sebanyak 200 unit. Kegiatan ini merupakan wujud kerja sama pemerintah kota dengan Yayasan Ali Jaber Indonesia. Illiza mengatakan, sebagian dari Al Quran braile digital ini juga akan diserahkan kepada tunanetra di Kabupaten Aceh Besar, karena untuk Banda Aceh sudah melebihi.

Lanjut Illiza, pemberian tersebut merupakan kewajiban dari Pemerintah Kota Banda Aceh sebagai bentuk perhatian kepada masyarakat dari kalangan tunanetra Selain itu juga untuk memberikan kesempatan kerja, pendidikan dan kesehatan bagi kalangan tunanetra. Termasuk dalam rangka pencerdasan Al Quran di tengah kalangan penyandang tunanetra sebagaimana layaknya masyarakat normal lainnya.

Sementara Syekh Ali Jaber mengatakan, pemberian Al Quran braile digital di Banda Aceh merupakan yang terbanyak dari yang diserahkan yayasannya selama ini. “Misi kami ingin memberdayakan para tuna netra dan merasa lebih berkontribusi dalam kehidupan mereka. Saya ingin membina mereka agar nanti muncul muazin, qari, bahkan imam salat. Nabi juga pernah mempunyai muazin dari tunanetra,” kata Syekh Ali Jaber dalam ceramahnya saat itu.

Next Article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *